Arsip untukanalisis ekonomi

Perkakas ‹ Kalipangla’s Blog — WordPress

Oleh Hidayatullah Muttaqin

Foto: New York Times

Foto: New York Times

Saat ini timbul perdebatan tentang apakah krisis global yang bersumbu dari gagalnya sistem keuangan Barat (akan) lebih hebat dari Depresi Besar -Great Depression- 1929 ataukah tidak? Dalam sebuah opini New York Times (16/2/2009) dipertanyakan apakah Amerika sudah memasuki depresi? Tentu saja dijawab oleh pemerintah Amerika Serikat TIDAK.

Pertanyaan tersebut adalah wajar mengingat hampir tiap hari terjadi kebangkrutan perusahaan-perusahaan Amerika dari skala kecil hingga besar, bahkan beberapa bulan terakhir PHK di AS mencapai 500 ribu pekerja setiap bulannya. Sedangkan bursa saham Wall Street terus bergejolak.

Satu hari kemarin (5/3/2009) saya menerima e-mail newsletter dari Martin D. Weiss yang menjelaskan posisi krisis keuangan Amerika lebih buruk dibandingkan Depresi Besar 1929. Newsletter yang berjudul How far could the Dow fall? membandingkan indikator-indikator keuangan antara krisis saat ini dengan Depresi Besar.

Weiss memaparkan 7 indikator yang dapat menjelaskan apakah crash dalam sistem keuangan AS belum mencapai derajat Depresi Besar, sama, ataukah lebih hebat? Berikut indikatornya:

# Fakta Pertama

Penurunan pendapatan saat ini lebih buruk dibandingkan saat Amerika pertamakalinya ditimpa Depresi Besar. Pendapatan rata-rata terjun 61% lebih besar dibanding selama Depresi Besar tahun 1930-an. Jatuhnya pendapatan ini adalah yang terbesar dalam 141 tahun terakhir.

# Fakta Kedua

Kerugian konsumen lebih buruk. Kerugian yang dipicu Depresi pada masa lalu masih terbatas pada pasar saham. Tetapi sekarang kerugian bursa New York Stock Exchange sudah menghapus separu uang investor, dan ini baru puncak gunung es saja. Saham terbanyak milik masyarakat sebagai sumber tabungan pensiun telah lenyap sebagaimana mereka telah kehilangan rumah US$ 2,4 trilyun dalam satu tahun.

# Fakta Ketiga

Hutang yang jauh lebih besar. Rasio hutang pada tahun 1929 mencapai 170% PDB sedangkan saat ini lebih besar 2 kali lipat. Hutang rakyat AS kini rasionya 350% PDB 2 kali lebih banyak di banding masa Depresi Besar.

# Fakta Keempat

Derivatif. Kantor Pengawas Currency (OCC) melaporkan bahwa bank-bank Amerika sekarang memiliki derivatif yang sangat besar dan sangat berisiko sebanyak US$ 176 trilyun. Pada tahun 1929 tidak ada trasanksi derivatif.

# Fakta Kelima

Kandasnya raksasa-raksasa keuangan AS. Dalam 18 bulan pertama 1929-32, banyak bank kecil dan menengah yang bangkrut, sedangkan bank berskala besar tidak mengalami kebangkrutan. Kini, banyak raksasa-raksasa keuangan AS yang memiliki sejarah panjang mengalami kebangkrutan seperti Bear Streans, Lehman Brothers, Fannie and Freddie, Washington Mutual, dan Wachovia. Kebangkrutan para raksasa ini kemungkinan besar akan disusul oleh Citigroup dan AIG.

# Fakta Keenam

Hutang Nasional AS. Pada 1929, Amerika merupakan negara pemeri pinjaman (kreditor) dengan cadangan devisa yang besar. Sekarang, Amerika merupakan negara paling banyak hutangnya di dunia dengan ketergantungan yang tinggi terhadap dana asing. Ini artinya kesempatan pemerintah lebih terbatas untuk mendapatkan pinjaman dalam membiayai bailout institusi keuangan raksasa Amerika.

# Fakta Ketujuh

Kebangkrutan ekonomi dan krisis hutang. Beberapa indikator menunjukkan gambaran suram Amerika.

  • Harga rumah jatuh 18,5%
  • Penjualan rumah yang ada mencapai level paling rendah dalam 12 tahun
  • Penjualan rumah baru mencapai titik paling bawah disepanjang tahun
  • Secara tak terduga, keluarga Amerika yang kehilangan gaji dalam bulan Februari mencapai 697 ribu bertambah 25% dibanding Januari.

Indikator-indikator yang dipaparkan oleh Weiss ini memberitahukan kepada kita bahwa kondisi Amerika saat ini jauh lebih buruk dibanding Depresi Besar 1929.

Sementara itu, Amerika di bawah kepemimpinan Obama memasuki era “kebangkrutan fiskal”. Pada tahun ini, defisit APBN berada pada tingkat paling buruk sepanjang sejarah AS sejak Perang Dunia II tahun 1942. Defisit keuangan pemerintah Amerika mencapai 12,3% PDB AS. Dengan nilai anggaran US$ 3,6 trilyun maka defisit fiskal mencakup 48,61% APBN AS.

Hutang publik Amerika pada saat ini bertambah US$ 1.459  trilyun atau meningkat 13,675% dari US$ 9,210 trilyun di awal tahun 2008 menjadi US$ 10,669 trilyun pada 24 Februari 2009. Rasio hutang pemerintah federal Amerika ini mencapai 76,01% PDB.

Amerika telah memasuki masa terburuk -paling tidak- sejak Depresi Besar 1929 sebagaimana kata Paul Krugman dalam bukunya. Ini memiliki makna awan kebangkrutan sedang menyelimuti negeri ini. Dan entah cara apalagi yang dapat digunakan pemerintah Amerika untuk -sekedar- menahan krisis, kecuali dengan cara menambah beban finansial warga AS atau dengan merampas kekayaan bangsa lain seperti invasi mereka ke Irak dan Afghanistan. Ini adalah pelajaran berharga bagi masyarakat dunia, khususnya kaum Muslim atas kerusakan sistem Kapitalisme. [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]

Membongkar Teory Inflasi Moderat

Oleh: M. Hatta

Secara historis, inflasi merupakan masalah ekonomi yang dominan disamping masalah pengangguran yang sudah sejak lama dihadapi oleh masyarakat di seluruh dunia. Sejarah menunjukkan bahwa salah satu negara yang ditandai dengan kenaikan harga secara cepat adalah Mesir di sekitar tahun 330 SM.[1] Menurut Samuelson persoalan inflasi adalah setua usia perekonomian pasar.[2]

Inflasi merupakan sebuah fenomena ekonomi yang banyak mendapat perhatian, sekaligus ditakuti dan dianggap sebagai musuh nomor satu oleh banyak kalangan, mulai dari ekonom, pemerintah, pengusaha, hingga masyarakat awam sekalipun. Tentunya hal ini disebabkan dampak dari inflasi yang sangat merugikan.[3]

Betapa merugikannya inflasi itu sendiri dapat disimak dari sejumlah perkataan yang dilontarkan oleh ekonom dan pejabat pemerintahan. Ronald Reagen misalnya, sebagaimana dikutip oleh The Economist (22/5/2008) pernah menyebut inflasi dengan sebutan kejam, perampok, menakutkan, perampok bersenjata, mematikan, dan pembunuh bayaran.[4]

Banyak upaya telah dilakukan untuk memerangi inflasi, namun tak kunjung ada tanda penyelesaian. Seolah-olah menggambarkan inflasi bagaikan “makhluk hidup” yang mempunyai mekanisme pertahanan sendiri dari serangan makhluk hidup lainnya sehingga tidak bisa dimusnahkan. Namun ini tentunya mustahil karena inflasi sendiri hanyalah sebuah fenomena, bukan makhluk hidup.

Berbagai kajian dan teoripun telah banyak dihasilkan oleh para ekonom sebagai solusi dari persoalan inflasi. Dalam hal ini, terdapat tiga teori utama yang menjelaskan mengenai inflasi, yaitu sebagai berikut:[5]

a. Teori kuantitas atau persamaan pertukaran dari Irving Fisher MV=PQ. Teori ini sejatinya merupakan pandangan dari teori klasik.[6] Menurut persamaan ini sebab naiknya harga barang secara umum yang cenderung akan mengarah pada inflasi ada tiga: sirkulasi uang atau kecepatan perpindahan uang dari satu tangan ke tangan yang lain begitu cepat (masyarakat terlalu konsumtif), terlalu banyaknya uang yang dicetak-edarkan ke masyarakat, dan turunnya jumlah produksi secara nasional.

b. Teori Keynes yang menyatakan bahwa inflasi terjadi disebabkan masyarakat hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Dengan kata lain, inflasi terjadi karena pengeluaran agregat terlalu besar. Oleh karena itu, solusi yang harus diambil adalah dengan jalan mengurangi jumlah pengeluaran agregat itu sendiri (mengurangi pengeluaran pemerintah atau dengan meningkatkan pajak, dan kebijakan uang ketat).[7]

c. Teori strukturalis atau teori inflasi jangka panjang. Teori ini menyoroti sebab-sebab inflasi yang berasal dari kekakuan struktur ekonomi, khususnya kekuatan suplai bahan makanan dan barang-barang ekspor. Karena sebab-sebab struktural pertambahan barang-barang produksi ini terlalu lambat dibanding dengan pertumbuhan ekonominya, sehingga menaikkan harga bahan makanan dan kelangkaan devisa. Akibat selanjutnya adalah kenaikan harga-harga barang lain, sehingga terjadi inflasi yang relatif berkepanjangan bila pembangunan sektor penghasil bahan pangan dan industri barang ekspor tidak dibenahi atau ditambah.

Adapun berkaitan dengan penyebab atau sumber inflasi,[8] para ekonom telah berhasil menganalisanya dan mengklasifikasikannya ke dalam beberapa kelompok. Hanya saja, berbeda halnya dengan hasil analisa ekonom terhadap penyebab dari inflasi yang cukup mendalam, solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalahan inflasi (menurut penulis) tampak sangat dangkal. Meskipun dalam aspek kajian dan teori yang telah dihasilkan para ekonom untuk menjelaskan inflasi sudah cukup banyak.

Sebagai buktinya dapat dilihat dari konsep fractional reserve requirement system yang selama ini dijalankan oleh bank sentral.[9] Fractional reserve requirement system adalah suatu sistem perbankan di mana bank mempertahankan rasio aktiva cadangan sebagai penjamin bagi sebuah bank bahwa mereka mempunyai likuiditas yang cukup untuk menghadapi permintaan uang tunai dari nasabah yang bisa timbul secara mendadak atau mendesak.[10]

Padahal konsep ini sudah banyak mendapat kritikan yang sangat tajam dari banyak ekonom muslim.[11] Dengan konsep ini pihak perbankan dapat mencetak atau turut menggandakan uang menjadi lebih besar yang kemudian mempengaruhi jumlah uang beredar di masyarakat dan pada akhirnya mengakibatkan inflasi. Dapat berjalannya konsep ini karena didukung oleh konsep interest, fiat money dan lembaga keuangan itu sendiri (bank).[12]

Tetapi apa yang dilakukan oleh ekonom dan bank sentral? Pada satu sisi, para ekonom ekonomi konvensional berpendapat bahwa, salah satu penyebab dari inflasi adalah jumlah uang beredar (JUB) yang tinggi dibandingkan jumlah barang dan jasa yang ada di pasar. Namun di sisi lain, mengapa konsep fractional reserve ini masih saja diterapkan yang notabenenya adalah salah satu inti dari permasalahan itu sendiri yang dapat menambah secara cepat JUB? Satu-satunya jawaban rasional mengapa konsep itu terus dijalankan adalah demi menjaga kepentingan pemilik bank. Dengan konsep fractional reserve, pemilik bank dapat meminjamkan dana yang dimilikinya kepada unit defisit[13] dengan imbalan sejumlah bunga yang telah ditetapkan. Keuntungan yang didapatkan pihak bank dengan membungakan uang ini sangatlah besar.

Hal inilah sebenarnya yang “dikutuk” oleh Sir Josiah Stamp (1941).[14] Ia mengatakan “Sistem perbankan modern menciptakan uang tanpa modal. Proses ini kemungkinan adalah ciptaan paling luar biasa yang pernah ditemukan. Perbankan dilahirkan dalam ketidaksetaraan dan dosa. Bankir memiliki dunia. Anda bisa mengambil apapun dari mereka, tetapi biarkan hak untuk menciptakan uang mereka, maka dengan sebatang pena mereka akan menciptakan cukup uang untuk membeli semuanya kembali…Ambillah kekuasaan besar ini dari tangan mereka, maka semua kekayaan besar seperti yang saya miliki akan lenyap, dan akan ada sebuah dunia yang lebih baik untuk hidup. Tetapi bila anda ingin terus menjadi budak dari bank dan membayar harga dari perbudakan, biarkanlah para bankir terus menciptakan uang dan mengontrol kridit”.[15]

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa, apa yang dilakukan oleh para ekonom ekonomi konvensional selama ini hanyalah tampak seperti menjelaskan (eksplanasi) bagaimana fenomena inflasi itu terjadi dengan sangat bagus, tetapi tidak bisa menghapus atau menghilangkan.[16]

1. Dampak inflasi terhadap sektor riil

Sama halnya dalam hal menjelaskan penyebab inflasi, ketika menganalisa dampak dari inflasi para ekonom ekonomi konvensional juga tampak memiliki pengamatan yang cukup mendalam.

Menurut mereka dampak inflasi sangatlah merugikan bagi setiap kalangan, terutama adalah bagi masyarakat yang berpendapatan tetap seperti halnya para pensiunan, pegawai kecil, dan guru.[17]

Para ekonom ekonomi konvensional secara umum membagi inflasi berdasarkan tingkat besarnya keparahan (daya rusak) menjadi empat jenis yaitu, inflasi ringan (creeping inflation/dibawah 10%), inflasi sedang atau menengah (galloping inflation/antara 10 – 30%), inflasi tinggi atau berat (high inflation/30- 100%), dan inflasi sangat tinggi (hyper inflation/di atas 100%).[18]

Labih lanjut, para ekonom ekonomi konvensional percaya bahwa, efek atau dampak inflasi tergantung pada apakah inflasi tersebut diantisipasi atau tidak.[19]

Makna dari inflasi terantisipasi (anticipated inflation) adalah ketika harga mengalami kenaikan secara relatif (misalkan 10%) setiap tahun, dan pada saat bersamaan juga terjadi kenaikan pada tingkat upah dan suku bunga riil sebesar 10%. Dengan demikian, perubahan harga yang terjadi hanyalah merupakan perubahan ukuran di mana masyarakat atau pemerintah telah menyesuaikan (mengantisipasi tingkat inflasi yang terjadi). Sebaliknya, inflasi yang tidak terantisipasi atau tidak terduga (unanticipated inflation) adalah inflasi di mana kenaikan harga barang yang terjadi tidak diikuti dengan kenaikan upah dan suku bunga riil.[20]

Berdasarkan klasifikasi di atas (inflasi terduga dan tak terduga), inflasi yang sering terjadi secara faktual adalah inflasi yang tidak terduga. Hal ini dapat diketahui dari sejarah perjalanan ekonomi dunia.[21]

Dampak inflasi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu: dampak dari segi ekonomi dan dampak dari segi sosial. Berikut di bawah ini adalah dampak – dampak inflasi menurut para ekonom.

a. Dari sudut ekonomi, inflasi mengakibatkan terjadinya redistribusi pendapatan dan distorsi harga, distorsi penggunaan uang, serta distorsi pajak.

b. Dari sudut sosial, akibat lanjut dari redistribusi pendapatan adalah kecemburuan sosial yang semakin tinggi dan bahkan dapat memicu kerusuhan atau krisis sosial (penjarahan dan perampasan).

Pembahasan dampak inflasi di atas adalah pembahasan secara umum. Adapun dampak inflasi terhadap sektor riil secara khusus adalah akan menghambat atau mengganggu proses pertumbuhan di sektor riil. Hal ini dikarenakan, dengan terjadinya inflasi maka tingkat pembelian masyarakat (permintaan agregat) akan mengalami penurunan dan selanjutnya penurunan ini akan menyebabkan pihak produsen harus mengurangi tingkat produksi (output) yang berujung kepada pemutusan hubungan kerja dan bertambahnya pengangguran (unemployment).

Selain itu, di saat terjadi inflasi yang tinggi maka suku bunga yang ditetapkan otoritas moneter juga meningkat. Oleh karena itu, sektor riil pada saat suku bunga tinggi mengalami kesulitan dana baik untuk meningkatkan produksi atau mengembangkan usahanya karena semakin tingginya dalam biaya modal.

Disisi lain, unit surplus lebih tertarik menyimpan dananya di bank dengan tingkat pengembalian (rate of return) yang lebih besar dan pasti dan pada saat yang sama, bank umum yang sudah memiliki banyak dana dari pihak unit surplus enggan untuk menyalurkan dananya ke sektor riil karena adanya permasalahan (aturan perburuhan, pajak, pungutan-pungutan, dsb) pada sektor riil dan lebih tertarik untuk menyimpan dananya di bank sentral. Akibatnya adalah tidak berfungsinya tugas intermediasi oleh bank umum dan terjadi penumpukan dana di bank sentral. Fakta inilah yang terjadi pada tahun 2007 dimana dana yang terkumpul di bank Indonesia (BI) berjumlah sebesar ratusan triliunan rupiah.[22]

Gambar 6
gambar 6

Skema Interaksi Antara Sebab dan Akibat Inflasi

Sumber: Diolah sendiri dari beberapa sumber[23]

Labih lanjut, para ekonom ekonomi konvensional juga percaya bahwa, dari ke empat jenis inflasi tersebut (tingkat besarnya keparahan atau daya rusak), yakni inflasi ringan akan memberikan pengaruh kepada kondisi ekonomi secara positif. Bahkan dikatakan ketiadaan inflasi menandakan tidak adanya pergerakan positif dalam perekonomian karena relatif harga-harga tidak berubah sehingga melemahkan sektor industri. Pendapat ini didasarkan pada beberapa alasan, yaitu: pertama, ketika terjadi kenaikan harga relatif barang, para produsen lebih bergairah dalam menjalankan dan meningkatkan produksinya. Kedua, dengan meningkatnya produksi maka dapat menciptakan lapangan kerja baru. [24] Benarkah anggapan demikian?

Anggapan di atas dapat kita telaah dari dua sisi, yaitu sisi konsumen dan produsen. Dilihat dari sisi konsumen, meskipun tingkat inflasi yang terjadi adalah ringan akan tetap memberatkan. Terutama bagi orang-orang yang miskin dan sekaligus tidak memiliki skill atau kemampuan yang lebih untuk bekerja.

Apa yang dikatakan bahwa, tingkat inflasi ringan dapat menstimulus penyerapan tenaga kerja sesungguhnya hanya berlaku bagi mereka yang memang memiliki kemampuan atau skill. Sementara bagi mereka yang sedari awalnya sudah dalam kemiskinan, dimana dengan kemiskinan tersebut menyebabkan mereka tidak mampu meraih atau menempa keahliaannya, maka hal ini tidak berlaku. Dengan kata lain, inflasi ringan yang terjadi tetap akan sangat membebani bagi mereka yang tergolong miskin dan tidak memiliki keahlian.

Terlebih lagi ketika harga barang yang naik tersebut adalah harga barang kebutuhan pokok masyakarat, meskipun kenaikan harga yang terjadi adalah rendah tetap saja akan menambah beban masyarakat miskin.

Sebagai contoh, katakan saja misalnya seorang kepala keluarga (dengan tanggungan 1 anak dan 1 istri) dimana penghasilan perbulan yang dapat diraih Rp.1,5 juta per bulan. Dengan tingkat inflasi ringan sebasar 5%, maka ia harus menanggung beban inflasi sebesar Rp.75.000 per bulan. Tentu ini adalah jumlah yang cukup besar bagi kepala keluarga tersebut.[25] Dengan demikian, anggapan bahwa, inflasi ringan dapat memberikan efek positif bagi perekonomian sesungguhnya tidaklah tepat. Karena hanya menguntungkan pihak tertentu saja.[26]

Adapun dilihat dari sisi produsen, seolah-olah menganggap produsen dalam berproduksi hanyalah bermotifkan pada orientasi keuntungan (profit oriented) semata. Padahal, seorang produsen (khususnya bagi seorang mulsim) tidaklah semata-mata menjalankan aktivitas produksinya berdasarkan motif dan orientasi keuntungan. Melainkan juga dapat bermotif rasa kemanusiaan (insaniyyah) dan atau ruhiyah (ketuhanan).[27]

Lebih dari itu, para ekonom sebenarnya juga berpendapat bahwa, kenaikan harga barang baik itu dalam kisaran besar maupun kecil tetap saja menimbulkan biaya. Biaya-biaya tersebut misalnya adalah shoe leather cost[28], menu cost (misal, biaya perubahan katalog), complaint and oppotunity loss cost (biaya kompalin dan hilangnya kesempatan), biaya perubahan peraturan dan perundang-undangan, serta biaya ketidaknyamanan hidup.[29]

Penutup

Masihkah Berharap dan Percaya Kepada Kapitalisme???

Wallahu’alam bi ash Shawab

————-

Tulisan ini disarikan dari proposal tesis M. Hatta MSI UII Jogjakarta

M. Hatta adalah mahasiswa Program Pascasarjana MSI UII Jogjakarta dengan konsentrasi Ekonomi Islam.

[1] Iswardono, Uang, hal. 213.

[2] Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Macro, hal. 311.

[3] Ibid., hal. 313.

[4] Hidayatullah Muttaqin, Goncangan Pasar Global dan Urgensitas Khilafah, dalam http://www.jurnal-ekonomi.org

[5] Iskandar Putong, Ekonomi Mikro., hal. 261.

[6] T. Gilarso, Pengantar, hal. 400.

[7] Deliarnov, Perkembangan, hal. 201.

[8] Pembahasan lebih luas tentang penyebab dan sumber inflasi lihat sub bab sumber permasalahan inflasi pada sistem ekonomi konvensional pada bab ini.

[9] Dengan konsep ini bank sentral dapat mencegah semakin meningkatnya jumlah uang beredar, yaitu dengan cara menaikkan persentase rasio aktiva cadangan yang dimiliki oleh bank umum. Sehingga, dengan sendirinya menurut mereka akan mencegah terjadinya inflasi.

[10] Christopher Pass dan Bryan Lowes, Dictionary, hal. 249. Lihat juga Aliminsyah dan Padji, Kamus, hal. 186.

[11] Ekonom muslim yang mengkritik konsep fractional reserve requirement system adalah Masudul Alam Choudhury, A Monetary System With 100-Per Cent Reserve Requirement And The Gold Standard: Theory, Fact And Policy, dalam http://www.capebretonu.ca/mchoudhu/ipe.html. Umar Ibrahim Vadillo, Berakhirnya Ekonomi: (The End of Economics) Mata Uang Emas dan Punahnya Perbankan, dalam David Barsamian dan Liem Siok Lan, Menembus batas (Beyond Boundaries) Damai untuk Semesta, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), hal. 59-61.

[12] Zaim Saidi, Kembali ke Dinar; Tinggalkan Riba Tegakkan Muamalah, cet. I (Depok: Pustaka Adina, 2005), hal. 23.

[13] Unit defisit dalam memegang uang tidak hanya didorong oleh motif transaksi dan berjaga-jaga, malainkan juga dengan motif spekulasi. Motif spekulasi inilah yang semakin menambah kekacauan sektor keuangan dunia dengan memanfaatkan perbedaan tingkat bunga yang ada di beberapa negara.

[14] Seorang direktur Bank of England tahun 1928-1941.

[15] Masa Lalu Uang dan Masa Depan Dunia; di Ambang Kehancuran Terbesar Ekonomi, (Pustaka Pohon Bodhi, 2007), hal. 87.

[16] Meminjam perkataan Jusmaliani dalam menggambarkan kegagalan ekonom ekonomi pembangunan dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi. Jusmaliani, Menuju Kebijakan dan Perilaku Ekonomi yang Islami, dalam Jusmaliali, dkk, Kebijakan Ekonomi dalam Islam, cet. I (Yogyakarta, 2005), hal. 4.

[17] Salim Fredericks, Political and Cultural Invasion (Invasi Politik dan Budaya), cet. I (Bogor: Pustaka Thariqul Izah, 2004), hal. 154.

[18] Bramantyo Djohanputro, Prinsip-prinsip Ekonomi Makro, cet. I (Jakarta: PPM, 2006), hal. 150-151.

[19] Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Macro, hal. 316.

[20] Ibid., Lihat juga Christopher Pass dan Bryan Lowes, Dictionary of Economics, hal. 18 dan 666.

[21] Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus, Macro, hal. 318 dan 340.

[22] Aulia Pohan, Potret Kebijakan., hal. ix-xii.

[23] Ismail Yusanto, dkk, Dinar Emas. M. Lutfi Hamidi, Gold Dinar. A. Riawan Amin, Satanic Finance.

[24] Iskandar Putong, Ekonomi Mikro., hal. 262. Lihat juga T. Gilarso, Pengantar, hal. 403 dan Bramantyo Djohanputro, Prinsip-prinsip, hal. 20.

[25] Harga beras raja lele kemasan 5 Kg sekarang seharga Rp.37.500., (awal oktober 2008) dengan hilangnya uang Rp.75.000., berarti kehilangan beras 10 Kg.

[26] Seharusnya, untuk meningkatkan baik secara kuantitas maupun kualitas dari perekonomian bukanlah dengan cara membiarkan inflasi terjadi meskipun dalam tingkat yang relatif kecil. Melainkan adalah dengan cara mendorong dan membangun infrastruktur demi berjalannya aktivitas perekonomian secara baik dan lancar sehingga berdampak pada peningkatan transaksi yang terjadi.

[27] Taqiyuddin an Nabhani, An Nidlam Al Iqtishadi, hal. 13-14.

[28] Suatu Istilah yang menyatakan bahwa bila inflasi sesuai dengan harapan maka relative penetapan suku bunga bank akan lebih besar dari tingkat inflasi. Hal ini menyebabkan masyarakat cenderung untuk berkali-kali menarik uangnya di bank atau ATM. Biaya yang muncul adalah biaya transport dan biaya layanan ATM dan biaya terduga lainnya.

[29] Iskandar Putong, Ekonomi Mikro., hal. 262.